MEMAKNAI LUKISAN PEREMPUAN DALAM KONTEKS BUDAYA VISUAL

Abstract

Sebuah lukisan adalah objek dalam bentuk visual yang memiliki makna. Sejalan dengan itu, tulisan ini bertujuan ingin memperlihatkan bagaimana suatu lukisan memadatkan gagasan dan nilai tertentu sebagai media untuk menyampaikan pesan. Penelitian ini menggunakan teori budaya visual dari Barnard dan gender dari Megawangi dan Abdullah. Kajian ini mengungkapkan bahwa empat lukisan perempuan Jawa yang dipamerkan oleh kelompok ”pepeling” Surakarta tersebut menggambarkan perempuan sebagai housewifization dan ibuisme yakni peran utama perempuan sebagai ibu rumah tangga yang melakukan tugas domestik. Kesimpulan dari kajian ini adalah Housewifization dan ibuisme ini merupakan identitas visual yang dikontruksi sehingga menjadi sumber pembentukan atau citra perempuan dalam realitas sosial masyarakat Jawa, terutama di pedesaan. Kajian ini menggunakan metodologi etnografis interpretatif yakni suatu pendekatan tafsir yang menggunakan ”teks” sebagai analogi atau model yang memandang, memahami, dan menafsirkan suatu kebudayaan atau gejala sosial budaya tertentu. Dalam pengumpulan data, peneliti melakukan wawancara, studi pustaka, majalah, dan buku.
PDF (Bahasa Indonesia)

References

Abdullah, I. 2009. Dinamika Masyarakat dan Kebudayaan Kontemporer. Yogyakarta: TICI Publications.

__________. (2015). Kontruksi dan Reproduksi Kebudayaan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

__________. (2006). Sangkan paran Gender. Yogyakarta: PPK UGM Pustaka Pelajar.

Ahimsa, S. H. (2006). Esei-Esei Antropologi. Teori, Metodologi dan Etnografi. Yogyakarta: Kepel Press.

Ahira. (2012). Makna Lagu Tak Lelo-Lelo Legung. Kompasiana, 25 Juni 2012.

Barnard, M. (2001). Approaches to Understanding Visual Culture.

Danesi, M. (2010). Pesan, Tanda, dan Makna. Yogyakarta: Jalasutra.

Gramsci, A. (1971). Selections from the Prison Notebooks. London: Lawrence.

Kusujiarti, S. (2006). Antara Ideologi dan Transkrip Tersembunyi: Dinamika Hubungan Gender dalam Masyarakat Jawa. Dalam Sangkan paran Gender. Yogyakarta: PPK UGM Pustaka Pelajar.

Mecca, A. (2017). ”Identifikasi Gender dan Wacana Heteronormatifivitas dalam Representasi Foto Selfi” Dalam Budaya, Agama, Agama, Seksualitas, Priyatna (ed). Medan : Obelia Publisher.

Megawangi, R. (1999). Membiarkan Berbeda. Sudut Pandang Baru tentang Relasi Gender. Bandung: Mizan

Mundayat, A. A. (2006). Djoko Pekik. Seni Sebagai Ekspresi Kritik. Yogyakarta: Kepel Press.

Nursyahida, S. (2016). Punk, Penentangan dan Politik Transnasionalisme Malaysia. SIRD

Puspitorini, D. (2018). Jurus Alih Wahana. Dari kelompok Pepeling. Dalam Pameran Lukisan Kelompok Pepeling. Reaktualisasi The Spirit Of Java. Solo: Bentara Budaya Balai Soedjatmoko.

Priyatmoko, H. (2018). Pepeling Ngajak Eling.Ingatan Kolektif Sejarah Solo. Dalam Pameran Lukisan Kelompok Pepeling. Reaktualisasi The Spirit Of Java. Solo: Bentara Budaya Balai Soedjatmoko.

Rampley, M. (2005). Exploring Visual Culture: Definition Concept, Context.Edinburgh University Press.

Sobur, A. (2003). Psikologi Umum. Bandung: Pustaka Setia.

Sontag, S. (1990).On Photography.London : Pinguin Books.

Widyatama. (2006). Punk, Ideologi yang Disalahkan. Yogyakarta: Garasi House of Book

Yuniar, R. (2009). Fotografi: Budaya Visual Dalam Panggung Politik. Kasus Foto Kampanye

Calon Presiden (2009). Dalam Dinamika Masyarakat dan Kebudayaan Kontemporer. Yogyakarta: TICI Publications.