DARI OPIUM HINGGA BATIK: LASEM DALAM “KUASA” TIONGHOA ABAD XIX-XX

Abstract

Dalam menghadapi kompetisi perdagangan dengan warga etnis Tionghoa, warga Belanda (vrijburgers) memang tidak dapat menandingi, sehingga timbul perasaan tidak senang. Hal itu membuat VOC menerapkan pembatasan-pembatasan terhadap warga etnis Tionghoa. Sementara itu, kepiawaian etnis Tionghoa dalam berdagang opium menyebabkan etnis Tionghoa di Lasem tumbuh sangat kaya pada abad XIX. Setelah meredupnya bisnis candu, warga Tionghoa Lasem kembali lagi menggeluti bisnis batik yang telah lama ditinggalkan. Sejak abad ke-19, para pengrajin Tionghoa telah berperan penting dalam produksi sejumlah rumah produksi batik di pesisir di Lasem. Akan tetapi hubungan sosial antara pengusaha dan buruh kurang terjalin dengan baik, karena hak-hak buruh tersebut kurang terpenuhi dengan baik. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, dan termasuk dalam penelitian sejarah sosial-ekonomi, di mana masyarakat Lasem abad XIX hingga XX sebagai objek. Adapun tujuan historiografis yang ingin dicapai dari penelitian ini yaitu mendokumentasikan sejarah sosial-ekonomi sebagai dampak perkembangan bisnis opium dan batik di Lasem pada abad XIX sampai dengan abad XX.____________________________________________________________In the case of facing trade competition with Chinese citizens, Dutch citizens (vrijburgers) couldn’t compete it, so they created feelings of displeasure.This situation made the VOC imposed restrictions on Chinese citizen. Meanwhile, Chinese expertise in the trade of opium caused the Chinese in Lasem to grow very rich in the nineteenth century. After the declining of opiate business, the Chinese resident Lasem back again focussed on batik business that has been long abandoned. Since the 19th century, Chinese craftsmen have the significant role in the production of a number of batik houses on the coast in Lasem. However, the social relations between employers and workers are poorly intertwined, because the labor rights are poorly fulfilled. This research is a qualitative research, and included in the study of socio-economic history, where the people of Lasem XIX to XX as the object. The historiographic objective to be achieved from this research is documenting the socio-economic history as the impact of the development of opium and batik business in Lasem in the XIX century up to the XX century.
PDF (Bahasa Indonesia)

References

Adi, G.P. (2014). “Nilai-Nilai Pluralisme dalam Lembaran Batik Lasem”, dalam Majalah Adiluhung, No.05 tahun 2014

Anonim. (2008). Kumpulan makalah Pertemuan Ilmiah Arkeologi ke-X, Yogyakarta. Jakarta: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia

Anonim. (2008). Ekspedisi Anjer-Panaroekan - Laporan Jurnalistik Kompas: 200 Tahun Anjer-Panaroekan, Jalan (Untuk) Perubahan. Jakarta: Penerbit Buku Kompas

Arini et.al. (2011). Batik : Warisan Adiluhung Nusantara. Andi Offset. Yogyakarta

Blussé, L., Chen, M. (2003). The Archives of the Kong Koan of Batavia. Leiden: Brill

Emir, T. (2013). Gaya Sackdress Big Size dengan Batik Jawa Tengah.Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Elliot, I.M.C.. 2013. Batik: Fabled Cloth of Java. Tuttle Publishing.

Galloway, P.K. 2006.Practicing Ethnohistory: Mining Archives, Hearing Testimony, Constructing Narrative.Nebraska : University of Nebraska Press.

Kamzah, R.P. 1858. Cerita (Sejarah) Lasem, Katurun/Kajiplak Dening R. Panji Karsono (1920), dalam buku Badra Santi, Rumpakanipun Mpu Santribadra.

Knapp, R. G. 2013. Chinese Houses of Southeast Asia: The Eclectic Architecture of Sojourners and Settlers. Clarendon: Tuttle Publishing.

Kuntowijoyo, 1995.Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Lombard, D. 1996. Nusa Jawa: Silang Budaya Jaringan Asia. Jakarta :Gramedia Pustaka Utama.

Molen, W. V. 2017. Sajarah Cina A nineteenth-century apology in Javanese, dalam Jurnal Wacana Vol. 18 No. 2 (2017)

Muljana, S. 2005. RuntuhnyaKerajaan Hindu-JawadanTimbulnyaNegara-Negara Islam di Nusantara.Yogyakarta :LkiS.

Nas, P. (2003). Street of Jakarta Fear, Trust and Amnesia in Urban Development. Leiden: KITLV Press.

Onghokham. 2009 .Riwayat Tionghoa Peranakan di Jawa. Jakarta: Komunitas Bambu.

Rengganis, R. 2013. Sosok Dibalik Perang. Jakarta: Raih Asa Sukses.

Rummel, R.J. (2011). Death by Government. New Jersey: Transaction Publishers.

Rusconi, J. 1935. Sja'ir Kompeni Welanda Berperang Dengan Tjina: Voorzien Van Inhoudsopgave En Aanteekeningen. Wageningen H. Veenman & Zonen

Rush, J. R.. 2012. Candu Tempoe Doeloe: Pemerintah, Pengedar dan Pecandu, 1860-1910. Jakarta: Komunitas Bambu

Suliyati, T. .(2009). Melacak Jejak Budaya Cina Di Lasem. Dalam Seminar Nasional, Menyusur Sungai Meretas Sejarah Cina di Lasem, tanggal 5 Desember 2009.

Setiono, B.G. 2003.Tionghoa dalam Pusaran Partai Politik. Jakarta: Trans Media.

Unjiya, M. A. 2014. Lasem Negeri Dampo Awang: Sejarah yang Terlupakan. Yogyakarta: Salma Idea

Wei. L. T., et.al. 2016. China's One Belt One Road Initiative. London: World Scientific with Imperlial College Press

Wijayakusuma, H. 2005. Pembantaian Massal 1740, Tragedi berdarah Angke. Jakarta: Yayasan Obor.

William, K. et.al. 2010. Eksplorasi Sejarah Batik Lasem. Jakarta: Penerbit IPI

Surat kabar

Soerabaijasch Handelsblad, 13 November 1889

Soerabaijasch Handelsblad, 7 April 1903

Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 16 September 1886