HUBUNGAN ANTARA MITOS PAGEBLUG DAN TRADISI APITAN PADA MASYARAKAT JAWA DI SEMARANG

Abstract

Artikel ini mengkaji mitos pertunjukan wayang kulit dalam tradisi apitan di daerah Kelurahan Kalipancur RW IV Kota Semarang. Tujuan kajian ini adalah untuk mengetahui narasi mitos pertunjukan wayang kulit yang ada dalam tradisi apitan di Kalipancur. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pegambilan data berupa observasi, wawancara dan studi literatur. Analisis teori menggunakan teori fungsionalisme dan konsep mitos Malinowski. Hasil penelitian menunjukan, bahwa: (1) Mitos pertunjukan wayang kulit terdapat dua cerita narasi mitos yaitu versi pertama lama diyakini warga asli Kalipancur dengan keyakinan adanya mitos, pertama muncul ketika pernah sekali tidak melakukan apitan wayangan dhanyang marah terjadilah pagebluk dan versi kedua baru diyakini warga pendatang dengan keyakinan mitos muncul akibat penularan wabah penyakit karena minimnya pengetahuan warga mengenai kebersihan dan penanganan penyakit sehingga terjadilah pagebluk banyak warga meninggal secara bersamaan. (2) Fungsi simbolis tradisi apitan bagi warga Kalipancur RW IV yaitu pertama dimaksudkan untuk tolak bala mendapatkan keselamatan bagi warga Kalipancur dari pengaruh hal buruk ataupun ancaman roh. Kedua yaitu menambah keyakinan diri yang dirasakan pada masing-masing warga Kalipancur. Ketiga yaitu merekatkan kerukunan antar warga Kalipancur merupakan hasil dari rangkaian acara tradisi apitan yang berkembang.____________________________________________________________This article examines the myth of the show wayang kulit in the apitan traditional in Kalipancur RW IV regional, Semarang city. This study used a qualitative approach with methods of observation, interview and documentation, as well as the theory of functionalism and the concept of myth from Malinowski. The results of this study are: (1) The myth of wayang kulit show there are two stories of mythical narratives that are first versions of long believed to be indigenous of Kalipancur Belief in the myth comes when it did not do apitan wayangan dhanyang angry pageblug happen and second version is believed to be immigrant residents with the confidence of transmission of disease outbreaks due to the lack of knowledge of the community about cleanliness and handling of the disease so that there are pageblug that causes people died simultaneously. (2) Symbolic function apitan tradition for the Kalipancur RW IV is first for tolak bala to get safety from the influence of bad or threatening spirit. The second is to increase the confidence that is felt in each the Kalipancur. Third is to bring harmony between citizens of Kalipancur Is the result of a growing series of events of the apitan tradition.
https://doi.org/10.52829/pw.117
PDF (Bahasa Indonesia)

References

Brata, Nugroho Trisnu. 2013. Menelisik Mitos Dewi Lanjar dan Mitos Ratu Kidul dengan Perspektif Antropologi-Struktural. Forum Ilmu Sosial UNNES. Vol 40 No 2.

Danandjaja, James. 1997. Folkolor Indonesia: Ilmu gosip, dongeng, dan lain-lain. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti

Endraswara, Suwardi. 2013. Foklor Nusantara:Hakikat, Bentuk, dan Fungsi. Yogyakarta: Penerbit Ombak

Herimanto; Budianti, Atik Catur; dan Utami, Trisni. 2013. Ecoliteracy Masyarakat Rawan Bencana Melalui Mitos Prabu Boko di Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Forum Ilmu Sosial UNNES.Vol 40,No 2.

Herustanto, Budiono. 2003. Simbolisme dalam Budaya Jawa. Yogyakarta: Hanindita Graha Widya.

Kaplan, David dan Robert A Manners. 2002. Teori Budaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Koentjaraningrat. 2010. Sejarah Teori Antropologi I. Jakarta: UI Press

Lambek, Michael. 2002. A Reader In The Anthropology of Religion. USA: Blackwell Publishing Ltd.

Miles, M. B dan Huberman, A. M. 1992. Analisis Data Kualitatif. Terjemahan TJetjep Rohidi. Jakarta: UI Press

Soetarno dan Saewanto. 2010. Wayang Kulit Dan Perkembangannya. Surakarta: ISI Press Solo

Sujarwa. 2005. Manusia dan Fenomena Budaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.