PENGALAMAN RELIJIUSITAS DALAM TEATER TRADISIONAL MASYARAKAT MADURA DI SITUBONDO

Abstract

Artikel ini merupakan hasil penelitian antropologi seni dengan menggunakan metode etnografi. Secara komprehensif menyoroti persoalan mengenai pengalaman relijiusitas masyarakat Madura di Situbondo dalam pertunjukan teater tradisional: Drama Al Badar dan Tabbhuwân Wali Sanga. Hasil kajian menunjukkan bahwa pengalaman relijiusitas masyarakat Madura melalui seni lebih bisa mendekatkan diri kepada Tuhan. Dibuktikan dari beberapa pengalaman pelaku seni dan penonton yang memaknai seni teater tradisional sebagai bagian dari laku spiritualnya. Internalisasi nilai-nilai Islam kepada masyarakat Madura cenderung lebih mudah diterima melalui seni tradisi. Relijiusitas melalui teater tradisional ini menunjukkan kecenderungan Islam tradisional, bisa dikatakan juga Islam kultural, atau Islam yang bisa integral dengan budaya lokal (sinkretis). Pengalaman relijiusitas ini juga dapat dijelaskan melalui sifat seni tradisi yang mampu menghadirkan peristiwa ‘ambang’ pada pelaku seni dan penontonnya. Peristiwa ‘ambang’ memberikan pengalaman yang kompleks, ambigu, pelik, serta membuka kemungkinan alternatif dan cara pandang yang baru dalam memahami dunia dan kehidupan. Melalui pengalaman relijiusitas yang dihadirkan oleh peristiwa ‘ambang’ inilah masyarakat Madura menemukan momen perjumpaannya dengan Tuhan.____________________________________________________________This article is the result of anthropological research using ethnographic methods. Comprehensively highlight the issue of the religious experience of Madurese people in Situbondo in traditional theater performances: Drama Al Badar and Tabbhuwân Wali Sanga. The results of the study show that the religious experience of Madurese people through art can be closer to God. Evidenced by several experiences of art performers and spectators who interpret traditional theater art as part of their spiritual practice. Internalization of Islamic values to the Madurese people tends to be more easily accepted through traditional arts. Religion through traditional theater shows the tendency of traditional Islam, it can be said that cultural Islam, or Islam can be integral to local culture (syncretic). This religious experience can also be explained by the nature of traditional art that is able to present the ‘liminal’ event to the art performer and the audience. The ‘liminal’ event provides a complex, ambiguous, complicated experience, and opens up alternative possibilities and new perspectives in understanding the world and life. Through the religious experience presented by the ‘liminal’ event, the Madurese found the moment of their encounter with God. 
https://doi.org/10.52829/pw.121
PDF (Bahasa Indonesia)

References

Bouvier, Hélène, 2002. Lèbur: Seni Musik dan Pertunjukan dalam Masyarakat Madura. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Chisaan, Choirotun, 2008. Lesbumi : Strategi Politik Kebudayaan, Yogyakarta: LKIS.

David, Bettina. 2008. “Bollywood, Dangdut Music, and Globalizing Modernities In Indonesia”. Dalam Sangita Gopal (Ed). Global Bollywood: Travels of Hindi Song and Dance. Minneapolis: University of Minnesota Press.

Hadi, Y. Sumandiyo, 2006. Seni dalam Ritual Agama. Yogyakarta: Buku Pustaka.

Hidayatullah, Panakajaya, 2015. “Upacara Seni Hodo Sebagai Ritual Kesuburan Masyarakat Dukuh Pariopo Situbondo” dalam makalah prosiding International Conference on Nusantara Philosophy, Fakultas Filsafat UGM, 2015.

____________, Panakajaya, 2017. Dangdut Madura Situbondoan. Yogyakarta: Diandra Kreatif.

____________, Panakajaya, 2017. “Panjhâk Sebagai Agen Pengembang Karakter Budaya Dalam Masyarakat Madura di Situbondo” dalam Jurnal Jantra Vol. 12, No. 2, Desember 2017.

Husson, Laurance, 1997. “Eight Centuries Of Madurese Migration to East Java”, dalam Asian Pasific Migration Journal, Vol. 6, No. 1 1997.

Kusmayati, A.M. Hermien, 2000. Arak-Arakan: Seni Pertunjukan dalam Upacara Tradisional di Madura. Yogyakarta: Yayasan Untuk Indonesia.

Munawaroh, Siti, 2015. “ Kiai Pada Masyarakat Desa Kotah Madura”, dalam Jurnal Jantra Vol. 10, No. 1.

Saini, K.M. 1988. Teater Modern Indonesia dan Beberapa Masalahnya. Bandung: Penerbit Binacipta. Dalam Lono Simatupang. Pagelaran: Sebuah Mozaik Penelitian Seni-Budaya. Yogyakarta: Jalasutra.

Simatupang, Lono, 2013. Pagelaran: Sebuah Mozaik Penelitian Seni-Budaya. Yogyakarta: Jalasutra.

Sugiharto, Bambang, 2013. Untuk Apa Seni ?. Bandung: Matahari.

Susanto, Budi, 2000. Imajinasi Penguasa dan Identitas Postkolonial. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Turino, Thomas, 1999. “Sign of Imagination, Identity, and Experience: A Peircian Semiotic Theory for Music”, dalam Jurnal Ethnomusicology, Vol. 43, No. 2, (Spring-Summer).

Weintraub, Andrew N, 2012. Dangdut: Musik, Identitas dan Budaya Indonesia. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

Wiyata, Latief, 2013. Mencari Madura. Jakarta: Bidik-Phronesis Publishing.