TIGA PELUKIS POTRET WAJAH KEPALA NEGARA PASCA PRESIDEN SUKARNO DI ISTANA KEPRESIDENAN REPUBLIK INDONESIA

Mikke Susanto(1*), Lono Lastoro Simatupang(2), Timbul Haryono(3),


(1) ISI Yogyakarta
(2) Program Studi Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa, Sekolah Pascasarjana, Universitas Gadjah Mada
(3) Program Studi Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa, Sekolah Pascasarjana, Universitas Gadjah Mada
(*) Corresponding Author

Abstract


Kepala negara adalah representasi bangsa. Wajah presiden adalah wajah yang dianggap mewakili segenap masyarakatnya. Oleh karena itulah, setiap presiden memiliki keistimewaan untuk diabadikan, baik pada sebidang kanvas maupun selembar foto secara resmi. Lukisan potret akhirnya menjadi pilihan yang menarik. Lukisan potret tidak hanya berfungsi sebagai penghias dinding istana, tetapi juga memiliki fungsi lainnya, baik yang bersifat sosial maupun personal. Setelah era Presiden Sukarno, terdapat tiga pelukis potret yang sering diminta untuk melukis kepala negara: yakni IB Said, Soetarjo dan Warso Susilo. Ketiganya mengalami masa kerja dari dekade 1960-an hingga dekade pertama 2000. Selama masa tersebut ketiganya telah membuat puluhan lukisan kepala negara. Mereka tidak saja melukis wajah presiden RI, namun juga kepala negara lain. Artikel ini ingin mengupas mereka melalui pendekatan sejarah. Di samping itu tulisan ini juga ingin mengetahui sejauh mana nilai-nilai karya yang dihasilkannya. Kesimpulannya cukup mengejutkan, mereka melukis dan mendudukan lukisan potret bukan sebagai karya pribadi. Inilah potret presiden pesanan, dimana pelukis hanya menjalani tugas sebagai instrumen mimetik atas realitas, bukan interpretator.

____________________________________________________________

Head of state is a nation’s representation. Therefore, every president has the privilege of being immortalized, both on a canvas and photography. Portrait painting becomes an interesting option, not only serves as a decoration, but also have social and personal functions. President Sukarno had three court painters. After that era, this tradition no longer exists. The Palace ordered portraits on three portrait painters: IB Said, Soetarjo, and Warso Susilo. Research about the history of the court painters have been written in a number of books and articles, but not with these three painters, though they painted from the 1960s to the first decade of 2000. This article wants to discuss their existence and creative process through historical approach. In addition, this paper also wants to know the extent to which the value of the work it produces. The conclusion, they paint and portrait paintings portraiture not as a personal work. The painter only serves as a mimetic instrument of reality, not an interpreter. His artwork, although a formal or state portrait, also has significance for discourse of political and power.


Keywords


History; Culture

References


Daftar Lukisan Koleksi Istana Presiden Republik Indonesia Kategori C, tertanggal 2 Mei 2016.

Dermawan T., Agus, “Nasip Pelukis Tamu Agung” dalam Sihir Rumah Ibu, Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2015.

Glori K. Wadrianto, “IB Said, Menyambung Sejarah Tanpa Perhatian “, KOMPAS Cyber Media, Jumat, 16 Mei 2003.

Said, IB, Katalog Pameran Tunggal IB Said, 19-25 Maret 1990, di Lingkar Mitra Budaya, Jakarta.

Susanto, Mikke, 17/71: Goresan Juang Kemerdekaan, Jakarta: Kementrian Sekretariat Negara RI, 2016.

West, Sheare, “Portraiture: Likeness and Identity,” dalam The Bulfinch Guide to Art History, Boston: Bloomsbury Publishing Plc., 1996.


Article Metrics

Abstract view : 39 times
PDF (Bahasa Indonesia) - 30 times

Refbacks

  • There are currently no refbacks.

Comments on this article

View all comments


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

INDEXING PARTNERS:
ISJD

SPONSORED BY:

Web
Analytics View My Stats