PERGESERAN FUNGSI RITUAL RUWATAN LAKON SUDHAMALA DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT MODERN

Abstract

Ruwatan dengan lakon Sudhamala pada mulanya digunakan untuk meruwat sukerta, peristiwa bersih desa, khitanan, dan pernikahan. Akan tetapi, pada era modern ruwatan dengan lakon itu juga difungsikan untuk kegiatan yang terkait dengan kehidupan masyarakat modern, misalnya ulang tahun, peresmian perusahaan, dan lain-lain. Permasalahan dalam penelitian ini, yaitu bagaimana pergeseran fungsi ritual ruwatan Sudhamala dan faktor-faktor apa yang menyebabkannya. Pendekatan fungsi  digunakan untuk mencari jawaban atas permasalahan tersebut. Metode pengumpulan data didapat dari observasi langsung, yaitu melihat pertunjukan wayang lakon Sudhamala, merekam, dan mentranskripsikannya. Wawancara dan studi pustaka juga dilakukan guna melengkapi data. Berdasarkan penelitian diperoleh hasil, bahwa fungsi ritual lakon Sudhamala bergeser karena sumber cerita berasal dari teks hasil karya masyarakat “pinggiran” dan menjadi seni ritual yang bersifat kerakyatan sehingga mudah mencair seiring dengan dinamika masyarakat. Pergeseran fungsi ritual disebabkan oleh faktor internal (pendidikan, pengalaman, agama) dan eksternal (kekuasaan, teknologi, ekonomi).Ruwatan with lakon Sudhamala, previously, is committed for sukerta, bersih desa (purifying a village from evil spirits), circumsicion and wedding party. In this modern era, eventhough, ruwatan is also functioned for the life of modern society for example birthday party, business ceremony, and others. Problem of this research covers how the change of ritual function of ruwatan Sudhamala is  and whatever factors that cause the change is. The function approach is executed to solve the problems. The method of data collecting is executed through direct observation by looking at the wayang performance lakon Sudhamala, recording, and then transcripting it. Interview and library study are also committed to complete the data. The research finding shows that the ritual function of lakon Sudhamala has changed for the story source comes from "marginal" text and becomes a populist ritual art so that it easily melt along with the social dynamics. The shift of ritual function is caused by internal factors (education, experience, religion) and external factors (power, technology, economy). 
PDF (Bahasa Indonesia)

References

Esten, M., (1999). Kajian Transformasi Budaya, Angkasa: Bandung.

Firth, R., (1957). Man and Culture. An Evaluation of the Work of Branislaw Malinowski, London: Routlegde & Kegan Paul.

Gennep,A. V., (1960). The Rite of Passage,London: Outledge & Kegan Paul.

Hanto, W., dkk., (1996). Ruwatan Bersama di Tengah Pengaruh Budaya Kota . Laporan Penelitian.Surakarta: STSI.

Harpawati, T., dkk., (2014). Keterpaduan Stmktur Dramatik Pertunjukan Wayang Kulit Lakon Sudhamala. Gelar. Vol. 12 No. 1: 93-104.

Kayam, U., (2003). Seni Pertunjukan dan Sistem Kekuasaan dalam Mencermati Seni Pertunjukan I,Sal Murgiyanto (ed.). Surakarta: STSIPress: 98-107.

Kodiran, (1997). Kebudayaan Jawa' dalam Manusia dan Kebudayaan Indonesia, Koentjaraningrat (ed.). Jakarta: Djambatan: 329-352.

Kodiran, (2000). Perkembangan Kebudayaan dan Implikasinva terhadap Perubahan Sosial di Indonesia,Yogyakarta: Fakultas Sastra UGM.

Koentjaraningrat, (1984). Kebudayaan Jawa,Jakarta: Balai Pustaka.

Kusmayati, H., (2003). Seni Pertunjukan Ritual: Tumbuh dan Kembang ke Arah Mana” dalam Sal Murgiyanto (ed.), Mencermati Seni Pertunjukan I. Surakarta: STSI Press: 205-212.

Muslich, K.S., (2007). Pandaming Kalbu dalam Islam dan Pesan Moral Budaya Jawa, Yogyakarta: Global Pustaka Utama.

Peursen, V., (1993). Strategi Kebudayaan.Terjemahan Dick Hartoko, Yogyakarta: Kanisius.

Purwana, B. H. S., (2015). Ritual MuangJong: Identitas Kolektif Komunitas Orang Sawang di Pulau Belitung , Patrawidya.Vol. 16 No. 2: 179-203.

Redisuta IV, (1954). Tjariyos Pedalangan Dalang Kandhabuwana Murwakala, Kediri: Tan Khoen Swie.

Rusdy, S.T., (2012). Ruwatan Sukirta & Ki Timbul Hadiprayitno, Jakarta: Yayasan Kertagama.

Sarwanto, (2008). Pertunjukan Wayang Kulit Puiwa dalam Ritual Bersih Desa, Surakarta: ISI Press bekerjasama dengan Cendrawasih.

Sedyawati, E., (2001). Kesenian Kraton dan Luar Kraton pada Masa Hindu-Buddha . Makalah disampaikan dalam penataran Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya, Jakarta: Bentara Budaya.

Soedarsono, R. M., (1999). Seni Pertunjukan Indonesia di Era Globalisasi, Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan kebudayaan.

Soemanto, B., (2008). Perkembangan Wayang (Kulit) dalam Perspektif Dramaturgi Makalah, Surakarta:ISI.

Soetamo, (1995). Ruwatan di Daerah Surakarta. Surakarta:CV. Cendrawasih.

Solichin, (2010). Wayang Masterpiece Seni Budaya Dunia, Jakarta: Sinergi Persadatama Foundation.

Stzomka, P., (2007). Sosiologi Perubahan Sosial,Cetakanke-3, Jakarta: Prenada.

Subalidinata, (1985). Sejarah dan Perkembangan Cerita Murwakala dan Ruwatan dari Sumber- Sumber Sastra Jawa,Yogyakarta: Javanologi.

Sumanto, (2007). Ruwatan Sukirta sebuah Pengetahuan Kearifan Budaya Jawa , Lakon.Vol. IV No. 1: 16-29.

Suwamo, (2016). Tradisi Manten Mubeng Gapura di Masjid Loram Kuloir ,Patrawidva, Vol. 17 No. 2: 57-73.

Tim Penyusun, (1977). Candi Sukuh dan Kidung Sudhamala. Jakarta: Proyek Pengembangan Media Kebudayaan Ditjen Kebudayaan Departemen Pendidikan dan

Kebudayaan.

Zoetmulder, P. J., (1983). Kalangwan Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang. Terjemahan Dick Hartoko. Jakarta: Djambatan.