FUNGSI, MAKNA, DAN EKSISTENSI NOKEN SEBAGAI SIMBOL IDENTITAS ORANG PAPUA

Abstract

Noken merupakan salah satu kerajinan tradisional masyarakat Papua. Dalam perkembangannya kerajinan ini tersebar hampir di seluruh wilayah, baik pegunungan hingga pesisir pantai. Bagi orang Papua noken tidak hanya berfungsi sebagai alat menyimpan (tas), tetapi juga memiliki fungsi dan makna yang luas dalam berbagai aspek, seperti sosial, ekonomi, dan budaya. Metode dalam tulisan ini menggunakan studi kepustakaan. Dari hasil yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa noken tidak hanya dipahami sebagai kerajinan tradisional semata, namun juga kerajinan yang bernilai tinggi bagi masyarakat. Namun demikian, seiring perkembangan zaman, nilai fungsi noken semakin memudar, karena bahan baku yang digunakan semakin beragam. Selain bahan baku jumlah pengrajin noken sudah semakin berkurang, sebab proses pewarisan kemahiran dari generasi tua ke generasi muda tidak berjalan maksimal, sehingga kerajinan noken terancam punah.____________________________________________________________Noken is one of the traditional crafts of the Papuan people. In the development of this craft spread in almost all regions, both mountains to the coast. For Papuans noken not only serves as a means to save (bags), but also has a comprehensive function and meaning in various aspects, such as social, economic, and cultural. The method in this paper uses literature study. From the results obtained, it can be concluded that the noken is not only understood as a traditional craft, but also the craft of high value to community. However, over the times, the value of the function noken fades, because the raw materials used increasingly diverse. In addition to raw materials noken number of craftsmen was already getting decreased, because the process of inheritance finesse of the older generation to the younger generation is not running optimally, so that the craft noken endangered.
https://doi.org/10.52829/pw.47
PDF (Bahasa Indonesia)

References

Ahimsa-Putra, (2008). Pemberdayaan Masyarakat Kawasan Borobudur, Beberapa pokok Pikiran , Makalah yang disampaikan dalam Expert Meeting yang diselenggarakan oleh Balai Konservasi Peninggalan Borobudur, di Borobudur.

Alwi, H., (2007). KamusBesarBahasaIndonesia.Jakarta: Balai Pustaka.

Arby, dkk., (1995). Album seni budaya Nusa Tenggara Timur. Kupang: Depertemen Pendididkan dan Kebudayaan.

Ariani, C., (2013). Simbol, Makna, dan Nilai Filosofis Batik Banyumas , dalam Jurnal Patrawidya Vol. 14 No. 3 Edisi September. Yogyakarta: Balai Pelestarian Nilai Budaya Yogyakarta.

Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Dalam Angka Tahun 2015.

Damsar, (1997). Sosiologi Ekonomi.Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Dinas Parawisata dan Ekonomi Kreatif, (2014). Papua: The Home of Tribes and Lind of an Adventure. Jayapura: Dinas Parawisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Papua.

Dumatubun, A. E(ed)., (2012). Perspektif Budaya Papua. Jakarta: Ihsan Mandiri berkerjasama dengan Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Jayapura Papua.

Emi, T., (2003). Pesona Tenun Flobamora. Kupang: Tim Penggerak PKK dan Dekranasda Provinsi NTT.

Falasifah, D.I., (2013). Kerajinan Tenun Ikat Tradisional Home Industry Dewi Shinta di Desa Troso Pecangaan Kabupaten Jepara (Kajian Motif, Wama, dan Makna Simbolik). Yogyakarta: Skripsi Program Studi Pendidikan Seni Kerajinan Jurusan Pendidikan Seni Rupa Universitas Negeri Yogyakarta.

Indrawardana, I., (2012). Kearifan Lokal Adat Masyarakat Sunda dalam Hubungan dengan Lingkungan Alam, dalam Jurnal Komunitas 4. Semarang: Universitas Negeri Semarang.

Koentjaraningrat, (1999). Mamisia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta: Djambatan.

Kondologit, E. dan Ishak S.P., (2015). Khombow: Lukisan KulitKayu Masyarakat Sentani di Kampung Asei Distrik Sentani Kabupaten Jayapura. Yogyakarta: Kapel Press dan Balai Pelestarian Nilai Budaya Papua.

La'a, A.S. dan Sri, S., (2013). Makna Tenun Ikat Bagi Perempuan: Studi Etnografi di Kecamatan Mollo Utara-Timur Tengah Selatan , dalam Jurnal Kritis: Jurnal Studi Pembangunan Interdisiplin Vol.XXII No.1.

Mansoben, J.R., (1995). Sistem Politik Tradisional di Irian Java. Jakarta: Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.

Pikei, T., (2012). Cermin Noken Papua; Perspektif Kearifan Mata Budaya Papuani. Nabire: Ecology Papua Institute EPI.

Ritzer, G., and Douglas J. G., (2004). Teori Sosiologi Modern.Jakarta: Kencana.

Sinaga, R., (2013). Masa Kuasa Belanda di Papua 1898-1962.Depok: Komunitas Bambu.

Soekanto, S., (2006). SosiologiSuatu Pengantar.Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Soemardjan, S. dan Soelaeman, S(ed)., (1974). Setangkai Bunga Sosiologi. Jakarta: Yayasan Badan Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Sugiyono, (2005). MemahamiPenelitian Kualitatif Bandung:Alfa Beta.

Tirtaningmm, dkk., (2015). Makalah Prasejarah Indonesia: Kebudayaan Masyarakat Papua. Yogyakarta: Program Studi Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta, Hal 4-5.

Wiwiho, H., (2014). Keris, Makna, dan Gagasan Kerisologi , dalam Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan Vol. 9 No.3 Desember. Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Media, Surat Kabar dalam Internet

Data Warisan Budaya Tak Benda BPNB Jayapura tahun 2010.

https://id.wikipedia.org/wiki/Papua, diakses tanggal 16Agustus 2016

http://www.academia.edu/13063850/Kondisi Sosial dan Budaya Papua, diakses tanggal 16 Agustus 2016.

www.kompasiana.com, diakses tanggal 10 Oktober 2016.

www.dtravel.com, diakses tanggal 10 Oktober 2016.