FRAGMENTASI, SEJARAH, HETEROGENITAS PENDUDUK, DAN BUDAYA KOTA PONTIANAK

Galuh Bayuardi(1*), Andang Firmansyah(2), Superman Superman(3),


(1) 
(2) Pendidikan Sejarah IKIP PGRI Pontianak
(3) Pendidikan Sejarah IKIP PGRI Pontianak
(*) Corresponding Author

Abstract


Pontianak merupakan kota madya di Indonesia. Secara geografis, lokasi Pontianak dekat dengan negara-negara tetangga, seperti Malaysia dan Singapura. Kondisi ini menyebabkan Pontianak sering dikunjungi pelancong dari negara tetangga, baik pengunjung yang memiliki urusan di Kota Pontianak, maupun yang sekadar singgah sebelum menuju destinasi lain di wilayah Indonesia. Jika ditelusuri dari sejarahnya, pada dasarnya Pontianak didesain sebagai kota perdagangan. Pontianak mengalami pembangunan yang cepat saat kedatangan VOC yang membuat kesepakatan dengan Kesultanan Pontianak. Sebagai tindaklanjut dari kesepakatan itu, mereka membangun kantor pemerintahan dan juga keraton untuk mendukung aktivitas politik di Pontianak. Seiring dengan pesatnya pentumbuhan Kota Pontianak, berbagai kelompok etnis menjadikan Pontianak sebagai kota yang heterogen. Kini, Pontianak dikunjungi berbagai etnis dari berbagai wilayah di Indonesia. Kelompok etnis yang tinggal di Pontianak di antaranya adalah Melayu, Dayak, Tionghoa, Jawa, Batak, Bugis, Madura, Banjar, Sunda, dan Bali. Berbagai etnis bergaul satu sama lain. Kondisi sosial heterogen di Pontianak tidak serta merta melahirkan pluralitas. Terkadang muncul sentimen kedaerahan baik itu klaim oleh penduduk lokal, maupun oleh mereka yang ditandai sebagai pendatang, meskipun pernyataan ini tidak terlihat secara langsung, tapi memiliki potensi masalah di kemudian hari.

____________________________________________________________

Pontianak is one of municipality in Indonesia. Geographicaly Pontianak location, is a region close to neighboring countries such as Malaysia and Singapore. This condition causes the Pontianak o en visited by travelers from neighboring countries either intentionally been to Pontianak Municipality and those who simply stopped to proceed to the main destinations in Indonesia other region. If traced far back on the history, basically Pontianak was designed to be a commercial city. Pontianak expertencing rapid development when VOC entrance and made an agreement with the ruler of Pontianak sultanate. As a follow up of the agreement, they established government offices and also the castle to support the political act wities in Pontianak. Along with the rapid growth of the Pontianak city, various ethnic groups from within and outside the island ofBorneo began to arrive. The arrival of the various ethnic groups making Pontianak as one of the cities where the population is heterogeneous. Today, Pontianak is much visited various ethnic groups from various regions in Indonesia. Ethnic groups who live in Pontianak, among others are Malay, Dayak, Chinese, Javanese, Batak, Bugis, Madurese, Banjar, Sunda, Bali, etc. Various ethnic coexistence between ethnic group and mingle with one another. Conditions heterogeneous society in Pontianak do not necessarily give birth to plurality. Sometimes it appears regionalist sentiment either of those claiming to be local residents as well as those who are considered immigrants even though it is not exposed directly but has the potential to become a problem in the future.


Keywords


history; Pontianak; heterogeneous

References


Azra, A. (2013). Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII, Akar Pembaharuan Islam Indonesia. Jakarta: Kencana.

Bartels, A., & Wiemann, D. (2007). Global Fragments (Dis)Orientation in The New World Order. Amsterdam: Rodopi.

Bruner, E. M. (1961). Urbanization and Ethnic Identity in North Sumatra. American Antropologist, 508-521.

Gin, O. K. (2011). The Japanese Occupation of Borneo, 1941-1945. New York: Routledge.

Hasanuddin. (2014). Pontianak Masa Kolonial. Yogyakarta: Ombak.

Hasanuddin, Purwana, B. H., & Sulistyorini, P. (2000). Pontianak 1771-1900: Suatu Tinjauan Sejarah Sosial Ekonomi. Pontianak: Romeo Grafika.

Heidhues, M. S. (2008). Golddiggers, Farmers, and Traders in the "Chinese District" of West Kalimantan, Indonesia. (A. Salmin, & S. Mihardja, Trans.) Jakarta: Yayasan Nabil.

Kymlicka, W. (2002). Multicultural Citizenship. (E. H. Eddin, Trans.) Jakarta: LP3ES.

Poerwanto, H. (2014). Cins Khek di Singkawang. Jakarta: Komunitas Bambu.

Ricklefs, M. C. (2001). History of Modern Indonesia since C. 1200 3rd ed. Hampshire: Palgrave.

Ricklefs, M. C. (2011). Sejarah Indonesia Modern. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Sjamsuddin, H. (2013). Perlawanan dan Perubahan di Kalimantan Barat, Kerajaan Sintang 1822-1942. Yogyakarta: Ombak.

Soekanto, S. (2001). Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali Press.

Tanasaldy, T. (2007). Politik Identitas Etnis di Kalimantan Barat. In H. S. Nordholt, & G. v. Klinken, Renegotiating boundaries; local politics in Post-Suharto Indonesia (B. Hidayat, Trans., pp. 461-490). Jakarta: KITLV-Jakarta, Obor.

Veth, P. (1992). Borneo's Wester Afdeeling, Geographisch, Statistisch, Historisch, vooratgegaan door een algemene schets des gangsche eilands. Singapura: Periplus Editions.

Wenty, M. M. (2016). Etnisitas dan Cita-Cita Kerja Orang Muda di Pontianak. In G. v. Klinken, & W. Berenschot, In Search of Middle Indonesia: Middle Classes in Provincial Towns (E. R. Terre, Trans., pp. 141-167). Jakarta: Obor; KITLV-Jakarta.


Article Metrics

Abstract view : 256 times
PDF (Bahasa Indonesia) - 100 times

Refbacks

  • There are currently no refbacks.

Comments on this article

View all comments


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

INDEXING PARTNERS:
ISJD

SPONSORED BY:

Web
Analytics View My Stats