MASYARAKAT KASEPUHAN CISITU; STUDI EKSPLORASI

Yuzar Purnama(1*),


(1) Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat
(*) Corresponding Author

Abstract


Kasepuhan Cisitu termasuk kedalam wilayah administrasi Desa Kujangsari, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, Propinsi Banten. Nama “cisitu” diambil dari situ (danau) yang merupakan icon daerah tersebut. Kasepuhan Cisitu termasuk kedalam kelompok Kasepuhan di Banten Selatan. Abah Ohri yang nama lengkapnya H. Muhammad Dohri adalah pemimpin adat di Kasepuhan Cisitu sejak tahun 1988. Kasepuhan Cisitu memiliki cabang di berbagai daerah yang disebut randayan. Randayan adalah masyarakat yang adat istiadatnya menginduk ke Kasepuhan Cisitu jumlahnya mencapai ratusan di antaranya di Bandung dan Bogor. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif adapun metode kajiannya adalah deskriptif analitik. Dari penelitian ini disimpulkan bahwa masyarakat Kasepuhan Cisitu merupakan keturunan eyang Cucuk Guru yang masih mempertahankan adat istiadat leluhurnya secara turun temurun mulai dari kepatuhan kepada ketua adat, cara bertani, upacara pertanian, dan tabu.

Kasepuhan Cisitu included into the administration area Kujangsari Village, Cibeber District, Lebak, Banten Province. The name “Cisitu” is taken from it (lake) which is an icon of the area. Kasepuhan Cisitu include both Kasepuhan in South Banten. Abah Ohri whose full name is H. Muhammad Dohri indigenous leaders in Kasepuhan Cisitu since 1988. Kasepuhan Cisitu have branches in various regions called Randayan. Randayan are a society to have its customs Kasepuhan Cisitu amounted to hundreds of them in Bandung and Bogor. The method used is qualitative method as for the method of study is descriptive and analytical. This study suggests that people are descendants grandparent Kasepuhan Cisitu Cucuk Teachers who still maintain their ancestral traditions for generations ranging from obedience to the head of customs, the way of farming, agricultural rites, and taboo.


Keywords


community; Kasepuhan Cisitu; exploratory study

References


Adimiharja, K. (1992). Kasepuhan yang Tumbuh di Atas yang Luruh – Pengelolaan Lingkungan secara Tradisional di Kawasan Gunung Halimun Jawa Barat. Bandung: Tarsito.

Bachtiar, W. (1997). Metode Penelitian Ilmu Dakwah. Pamulang Timur Ciputat: Logos Wacana Ilmu.

Bogdan, RC. (1972). Participant Oberservation in Organizational Settings, Syracuse, N.Y. : Syracuse Univercity Press.

Budhisantoso, S. (1992/1993). Upacara Tradisional. Bandung: P3NB, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Direktorat Jenderal Budaya.

Djajadiningrat. (1983). Babad Banten. Jakarta : Djambatan.

Geertz, C.(1981). Abangan, Santri, dan Priyayi dalam Masyarakat Jawa. Jakarta: Pustaka Jaya.

Hunter, ED dan Whitten P. (1976). Encyclopedia of Anthropology.

Hidayah, Z. (2006). Metode Penelitian Kepercayaan Masyarakat, Makalah dalam Penataran Tenaga Teknis Pamong, Jakarta.

Kirk, J. & Marc LM. (1986). Realibility and Validity in Qualitative Research, New York : St. Martin Press.

Koentjaraningrat. (1993). Masalah Kesukubangsaan dan Integrasi Nasional. Jakarta: Universitas Indonesia (UI Press).

Moleong, LJ. (1989). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Karya.

Rosyadi (2005), Peran Leuit dalam Kehidupan Masyarakat Kasepuhan Cisungsang Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak Banten. Bandung : Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung.

Sucipto, T. (1997). Fungsi Tabu pada Masyarakat Kampung Dukuh. BKSNT Bandung: Jurnal Ilmiah Sejarah dan Budaya Budhiracana.

Suyono, A. (1985). Kamus Antropologi. Jakarta: Akade Mika Pressindo.


Article Metrics

Abstract view : 113 times
PDF (Bahasa Indonesia) - 34 times

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

INDEXING PARTNERS:
ISJD

SPONSORED BY:

Web
Analytics View My Stats