WACANA IDENTITAS NASIONAL PADA BUKU TEKS PELAJARAN SEJARAH DI INGGRIS DAN INDONESIA: KAJIAN KOMPARATIF

Hiernonymus Purwanta(1*), Heribertus Hery Santosa(2), Anton Haryono(3),


(1) 
(2) Universitas Sanata Dharma
(3) Universitas Sanata Dharma
(*) Corresponding Author

Abstract


Salah satu tujuan terpenting pendidikan sejarah adalah untuk menumbuhkan identitas dalam diri generasi muda.Artikel ini bermaksud untuk meneliti bagaimana bangsa Inggris dan Indonesia memproduksi wacana identitas nasional mereka melalui buku teks pelajaran sejarah SMA. Metode yang digunakan adalah Critical Discourse Analysis (CDA) terhadap narasi yang terdapat pada buku teks pelajaran sejarah dari kedua negara sebagai subjek kajian.Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah hermeneutika. Hasil penelitian menunjukkan bahwa buku teks pelajaran sejarah di Inggris mewacanakan bahwa bangsa Inggris (British) merupakan subjek dari berbagai peristiwa sejarah yang terjadi, serta menarasikan pencapaian dan sukses yang diperoleh masyarakat Inggris. Bahkan, untuk menonjolkan wacana itu, pengarang buku teks pelajaran sejarah melakukan heroifikasi dan mitologisasi berbagai tokoh dan peristiwa sejarah. Sebaliknya, buku teks pelajaran sejarah di Indonesia justru mewacanakan masyarakat Indonesia sebagai objek dari kekuatan bangsa asing, khususnya bangsa Belanda dan peradaban Eropa. Dari sudut pandang ini, kebudayaan Indonesia sebagai sumber identitas masyarakat dinegasikan dan digambarkan sebagai “kuno” dan “kolot” yang tidak cocok dengan kebudayaan modern.

One of the most important goals of history education is to infuse national identity to young generation. Aim of this article is to explore of how British (United Kingdom) and Indonesia product their discourse of national identity through their high school history textbooks. A methods use is Critical DiscourseAnalysis (CDA) where content of history textbooks from the two countries as subject of analysis. Approach used is hermeneutics.Result shows that high school textbooks in United Kingdom discoursing British as subject of historical events, achievement and success of British people. Moreover, authors of the textbooks made heroification and mythologization. In contrast, high school textbooks in Indonesia discoursing Indonesians as object of foreign powers especially Dutch and Western civilization. From this viewpoint, Indonesian cultures as source of identity is negated and described as “old fashion” that couldn't fit modern culture.


Keywords


discourse; national identity; textbook; history education

References


Addison, P., 2005. Churchill: The Unexpected Hero. Oxford: Oxford University Press.

Aitken, I., 2013. The Concise Routledge Encyclopedia of the Documentary Film. Oxon: Routledge.

Anderson, B., 1991. Imagined Communities: Reflection on the Origin and Spread of Nationalism. New York: Verso.

Crawford, K., 2001. Constructing national memory: The 1940/41 Blitz in British history textbooks. Internationale Schulbuchforschung 23.Verlag Hahnsche Buchhandlung. ISSN 0172-8237.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1990. Seminar Sejarah Nasional V: Sub Tema Pengajaran Sejarah. Jakarta: Direktorat Sejarah dan Nilai-nilai Tradisional.

Derrida, J., 1997. Of Grammatology.Translated by Gayatri Chakravorty Spivak. London: The Johns Hopkins University Press.

Foster, S., 2005. “The British Empire and Commonwealth in World War II: Selection and Omission in English History Textbooks”. International Journal of Historical Learning Teaching and Research No. 5 pp. 1-19. ISSN 1472-9466.

Glasersfeld, E. von., 1984. “Thoughts about Space, Time,and the Concept of Identity” dalam Pedretti A. (ed.) Of of: A book conference. Zürich:Princelet Editions.

Ipsos Mori. (2006) Young People and British Identity. London: Ipsos Mori.

Kartodirdjo, S., 2005. Sejak Indische sampai Indonesia. Jakarta: Kompas.

Levine, P., 2007. The British Empire: Sunrise to Sunset. Harlow: Pearson Education Limited.

Mahmood, K., 2006. “The Process of Textbook Approval: A Critical Analysis” pada Bulletin of Education & Research June 2006, Vol. 28, No. 1, pp.1-22.

Niel, R. van., 2009. Munculnya Elite Modern Indonesia.Terjemahan Zahara Deliar Noer. Cetakan kedua. Jakarta: Pustaka Jaya.

Ponting, C., 1991. 1940: Myth and Reality. London: Hamish Hamilton.

Pusat Bahasa, 2008. Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa.

Renan, E., 1882. “What is A Nation?” dalam Wolf, Stuart, ed..(1996). Nationalism in Europe, 1815 to Present. London: Routledge.

Rosidi, S., 2007. Analisis Wacana Kritis Sebagai Ragam Paradigma Kajian Wacana. Makalah disajikan pada Sekolah Bahasa, atas prakarsa Himpunan Mahasiswa Islam Komisariat Bahasa, Universitas Islam Negeri (UIN) Malang, 15 Desember 2007.

Suryaman, M., 2007. Dimensi-Dimensi Kontekstual di Dalam Penulisan Buku Teks Pelajaran Bahasa Indonesia. Paper diunduh dari http://journal.uny.ac.id/index.php/diksi/article/view/147.

Sutherland, H., 2008. “Meneliti sejarah penulisan sejarah” dalam Nordholt, Henk Schulte, Bambang Purwanto dan Ratna Saptari, ed. Perspektif Baru Penulisan Sejarah Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Tarunasena, 2009. Sejarah SMA/MA. Jilid 2. Jakarta: Depdiknas.

Vessey, M., 2011. The Calling of the Nations: Exegesis, Ethnography, and Empire in a Biblical-historic Present. Toronto: University of Toronto Press.

Wiriaatmadja, R., 1992. Peranan Pengajaran Sejarah Nasional Indonesia Dalam Pembentukan Identitas Nasional. Disertasi. Bandung: Program Pascasarjana IKIP Bandung.

Internet

BBC 19 September 2014 pada http://www.bbc.com/news/uk-scotland-29270441.

http://www.merriam-webster.com/dictionary/image? show=0&t=1286555314 diunduh pada 4 November 2015.


Article Metrics

Abstract view : 3018 times
PDF (Bahasa Indonesia) - 80 times

Refbacks

  • There are currently no refbacks.

Comments on this article

View all comments


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

INDEXING PARTNERS:
ISJD

SPONSORED BY:

Web
Analytics View My Stats