SAAT ORANG JAWA MEMBERI NAMA; STUDI NAMA DI TAHUN 1950-2000

Moordiati Moordiati(1*),


(1) 
(*) Corresponding Author

Abstract


Memilih dan memberi nama tidak lagi dianggap sebagai sebuah persoalan besar, pada akhirnya banyak nama yang justru tidak dikenal dan terdengar asing. Padahal pemilihan dan pemberian nama seseorang sebenarnya juga mengandung maksud dan makna tertentu sesuai dengan harapan orang tua. Dengan kata lain bahwa “nama adalah doa”. Ini juga yang menjadi alasan serta tujuan dari artikel ini untuk melihat perubahan makna pada pemberian nama di dalam kebudayaan masyarakat Jawa terutama ketika masa periode awal kemerdekaan (1950) sampai dengan tahun 2000an. Ada perkembangan serta perubahan yang menarik dari sumber sementara yang ada, bahwa nama-nama anak dari etnis Jawa akan semakin panjang dan tidak familiar di dengar (bahkan semakin kompleks dan kehilangan kejawaannya). Inilah yang menjadi pertanyaan besar dari artikel ini mengapa terjadi perubahan dalam pemilihan serta pemberian nama pada anak di dalam kebudayaan masyarakat Jawa Jombang? Kedua, Faktor apa saja yang mempengaruhi alasan terjadinya perubahan pemilihan serta pemberian nama dalam masyarakat Jawa di Jombang?. Tidak sebagaimana model metode sejarah selama ini, maka metode yang dilakukan dalam hal ini adalah melalui pengumpulan sample data siswa dari sekolah dasar dan sekolah menengah salah satu daerah di Jawa Timur, yakni Jombang untuk mendiagnosa dan mengklasifikasikan perubahan yang terjadi dari periode satu ke periode berikutnya, sekaligus juga sebagai bahan perbandingan. Akhirnya bahwa sejarah intelektual orang Jawa dapat disusun meski bersandar pada “sekedar” daftar nama. Ada perubahan besar dalam masyarakat di Jombang terutama mengenai pemilihan dan pemberian nama pada anak mereka. Nama yang dipilih dan diberikan (digunakan) bukan lagi berdasarkan atas doa dan makna dari nama tersebut, namun pemilihan serta pemberian nama lebih didasarkan pada model apa yang berkembang saat itu. Inilah yang menjadi alasan tidak banyak lagi dijumpai nama-nama yang identik dengan kejawaannya.

Choosing and naming is no longer regarded as a major problem, in the end many names that actually unknown and foreign sounding. Though the elections and the naming of someone actually have the intent and specific meaning in accordance with the expectations of parents. In other words, that "the name is a prayer". This is also why the reason and the purpose of this article to see the changes of meaning in the naming in the culture of the Java community, especially when the period of the early period of independence (1950) until the 2000s. The developments as well as interesting change from the source while there, that the names of the children of ethnic Java will become longer and unfamiliar at the hearing (even more complex and losing his Javanese). Not as a model for this method of history, through the collection of data sample of students from primary schools and one secondary school in East Java region, namely Jombang to diagnose and classify the changes from one period to the next period, as well as a comparison. Finally that the intellectual history of the Javanese can be arranged even rely on "just" a list of names, although it still requires improvement, both in terms of methodology and preparation needs to get serious attention from historians that the picture of the human past into a more whole and humanist.


Keywords


name; Java community; social changes; intellectual history

References


Damar S. P., 2010, “Nandur Jeneng, Panen Jenang” dalam Solopos edisi 4 Februari.

Geertz, H., 1961, The Javanese Family: A Study of Kinship and Socialization. New York: The Free Press of Glencoe.

Hadiwidjana, R. D. S., 1968. Nama-nama Indonesia. Yogyakarta; Spring.

Hatley, R., 1983. “Mapping Cultural Regions of Java”, dalam Other Javas Away From the Kraton. Monash University.

___________, 1977. What's in a name. Arti Social Seperti Terlihat dalam Nama dan Perubahan Laziman (Mode) Nama di Jawa.Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.

Kartodirdjo, S., 1993. Pendekatan Ilmu Sosial Dalam Metodologi Sejarah. Jakarta: Gramedia.

Koentjaraningrat, 1994. Kebudayaan Jawa. Jakarta: Balai Pustaka.

Kuntowijoyo, 1995. Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Bentang Budaya.

___________, 1994. Metodologi Sejarah.Yogyakarta: Tiara Wacana.

Lombard, D., 2005. Nusa Jawa: Silang Budaya, Jaringan Asia 2. Jakarta: Gramedia.

___________, 2005. Nusa Jawa: Silang Budaya, Warisan Kerajaan-kerajaan Konsentris. Jakarta: Gramedia.

Moordiati, 2009. Wong Jowo Ilang Jawane; Studi Nama Orang Jawa 1950-2000, Laporan Penelitian DIPA Fakultas FIB Universitas Airlangga Surabaya.

Mursidi. N., 2008. “Ritus Kelahiran Barokahan”, dalam majalah Hidayah blogspot. Edisi 78.

Pemberton, J., 2003. “Jawa”. Yogyakarta: MataBangsa.

Poensen, C., 1870. “Iets over Javaansche Naamgeving en Eigennamen”. Dalam: Mededeelingen Vanwege het Nederlandsche Zendeling Genootschap XIV.

Rustopo, 2007. Menjadi Jawa, Orang-oang Tionghoa dan Kebudayaan Jawa. Yogyakarta: Ombak,

Singarimbun, M., 1989. “Metode dan Proses Penelitian” dalam Masri Singarimbun dan Sofian Effendi (Ed.). Metode Penelitian Survai. Jakarta: LP3ES.

Sutirto, T. W., 2010.”Ngemu Suraos Lebet” dalam Solopos edisi 4 Februari Suryadinata, L., 2002. Negara Dan Etnis Tionghoa, Kasus Indonesia. Jakarta: LP3ES.

Sumber Acuan Buku Induk Siswa

Madarasah Ibtidaiyah ( MI ) Bustanul Ulum Mlaras Kec. Sumobito.

Madarasah Ibtidaiyah Miftakhul (MI) Huda Kec. Sumobito.

Sekolah Dasar Negri (SDN) Tejo dan Gambiran Kec. Mojoagung.

Buku Induk SMPNegri I Mojoagung dari tahun 1965 sampai 2004.

Buku Induk SD dan SMP Kristen YBPK (Yayasan Badan Pendidikan Kristen) Kec. Mojowarno dari tahun 1965 sampai tahun 2003.


Article Metrics

Abstract view : 2920 times
PDF (Bahasa Indonesia) - 73 times

Refbacks

  • There are currently no refbacks.

Comments on this article

View all comments


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

INDEXING PARTNERS:
ISJD

SPONSORED BY:

Web
Analytics View My Stats