SUKAPTINAH AND HAJINAH’S ROLES IN THE NATIONALIST MOVEMENT IN INDONESIA

Mutiah Amini(1*),


(1) 
(*) Corresponding Author

Abstract


In the history of the Indonesian women’s movement, Siti Sukaptinah Sunaryo Mangunpuspito (hereinafter referred to as Sukaptinah, 1907-1991) and Siti Hajinah Mawardi (hereinafter referred to as Hajinah, 1906-1995) were known as activists in women’s organizations during the colonial period. Sukaptinah was a member of an Islamic nationalist group (JIBDA – Jong Islaminten Bond Dames Afdeling) with a background on the Indonesian education movement, Taman Siswa. She was also active in the first Indonesian Women’s Congress of 1928. Hajinah who came from Aisyiah (the women’s wing of the large modernist Islamic organization, Muhammadiyah) was known as one of the members of the Indonesian Women Congress. In addition to their activities in the Indonesian women’s movement and the Islamic movement, they also played roles in national movement, a matter which is not quite recognized. Hajinah did not only act as the head of Aisjiah, but also partook actively in press through Soeara ‘Aisjiah magazine (Aisjiah’s quarterly magazine) and Isteri (magazine existing in embryo in the first women congress). An activist of Aisjiah, she gave meaning of the independence achievement through the domain of family (social). On the other hand, Sukaptinah, activist of Jong Islaminten Bond, who also actively participated in the first, second, third and fourth Indonesian Women Congress, gave meaning of the national movement through political domain. She had sat in the parliament as the woman representative in the government council in Semarang, with the most important political thought in the form of the importance of woman to struggle their rights to vote and be voted in the parliament.

Di dalam sejarah gerakan perempuan, Siti Sukaptinah Sunaryo Mangunpuspito (yang selanjutnya disebut Sukaptinah, 1907-1991) dan Siti Hajinah Mawardi (yang selanjutnya disebut Hajinah, 1906-1995) dikenal sebagai aktivis organisasi perempuan pada masa kolonial. Sukaptinah adalah anggota kelompok nasionalis Islam (JIBDA – Jong Islaminten Bond Dames Afdeling) dengan latar belakang pendidikan nasionalis, Taman Siswa. Sukaptinah juga aktif di dalam Konggres perempuan Indonesia Pertama pada 1928. Sementara itu, Hajinah merupakan anggota Aisjiah (sayap perempuan dari salah satu organisasi modernis Islam, Muhammadiyah) serta dikenal sebagai salah seorang anggota Konggres Perempuan. Selain aktivitasnya di dalam gerakan perempuan Indonesia dan gerakan Islam, mereka juga berperan penting di dalam gerakan nasional, yang selama ini jarang diperbincangkan. Hajinah tidak hanya pernah menjadi salah seorang pimpinan Aisjiah, tetapi juga menjadi pemikir penting atas terbitnya majalah Soeara ‘Aisjiah (majalah terbitan rutin Aisjiah) dan Isteri (majalah yang memiliki keterkaitan erat dengan Konggres Perempuan Pertama). Sebagai aktivis Aisjiah, Hajinah berperan dalam pemberian arti kebebasan berpendapat melalui ruang keluarga (sosial). Selain itu, Sukaptinah, merupakan aktivis Jong Islaminten Bond, yang juga berpartisipasi aktif di dalam Konggres Perempuan Pertama, Kedua, ketiga, dan Keempat, dengan memberikan arti yang penting melalui ranah politik. Sukaptinah juga pernah duduk di parlemen di Semarang sebagai wakil perempuan, dengan pemikiran politiknya tentang pentingnya perempuan secara tegas memperjuangkan hak pilih dan keterwakilan perempuan di parlemen.


Keywords


Sukaptinah; Hajinah; Nationalist movement; Indonesia

References


Amini, M., (2009). "Biro Konsultasi Perkawinan" in Kota-Kota di Jawa, Yogyakarta: Ombak.

Besluit 24081/39, 14 Oktober 1939.

Blackburn, Susan (2007), Kongres Perempuan Pertama, Tinjauan Ulang, Jakarta: KITLV.

Boekoe Peringatan Konferensi Badan Perlindungan Perempoean Indonesia dalam Perkawinan (BPPIP), 21-23 Juli 1939 di Mataram-Jogjakarta.

Coté, Joost (2008), Realizing the Dream of R.A. Kartini: her Sisters’ Letters from Colonial Java. Ohio University Press.

Hatley, Barbara and Blackburn, Susan, “Representations of Women’s Roles in Houshold and Society in Indonesia Women’s Writing of the 1930’s”, Juliette Koning et al (ed.), Women and Housholds in Indonesia, Cultural Notions and Social Practices, NIAS Studies in Asian Topics Series 27.

Hidoep, 15 Juli 1939.

Ingleson, John (1983), Jalan ke Pengasingan: Pergerakan Nasional Indonesia Tahun 1927-1934, Jakarta: LP3ES.

Isteri Indonesia, “Perempoean dalam Volksraad (Pidato Njonja Soenarjo dalam rapat Openbaar di Semarang)”, October 1939.

KOWANI (1978), Sejarah Setengah Abad Pergerakan Wanita Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, p. 32.

Lailatul Huda, “Wanita dan “Malam”: ‘Aisyiyah di Kauman Yogyakarta 1914-1942,” Thesis, History, UGM, 1998.

Legene, Susan and Waaldijk, Berteke (2007) “Mission Interrupted: Gender, History and the Colonial Canon”, Maria Grever and Siep Stuurman(ed.), Beyond the Canon, History for the Twenty-first Century, Macmillan: Palgrave.

Locher-Scholten, Elsbeth (1996), Etika yang Berkeping-keping, Lima Telaah Kajian Aliran Etis dalam Politik Kolonial 1877-1942. Jakarta: Penerbitan Djambatan.

Mailrapport No. 62x/29, verslag van het eerste Indonesische vrouwencongres gehouden te Jogjakarta van 22 tot 25 December 1928.

Mutiah Amini (2009), “Biro Konsultasi Perkawinan” in Kota-kota di Jawa, Yogyakarta: Ombak.

Pewarta PPPPA, “soeara Perkoempoelan Pembasmian Perdagangan Perempoean dan Anak-anak”, dibawah penilikan Ki Hadjar Dewantara, no. 1, tahoen 1, 30 Desember 1932

Pidato Ir. Soekarno dalam konggres PNI pada 1 Augustus 1929, dalam Isteri, September 1929, Nomor 5, taoen ke I, hlm. 1.

Pringgodigdo, A.K. (1986), Sejarah Pergerakan Rakyat Indonesia, Jakarta: Dian Rakyat.

Ricklefs, M.C., Sejarah Indonesia Modern 1200-2004, Jakarta: Serambi.

Sartono Kartodirdjo (1999), Pengantar Sejarah Indonesia Baru: Sejarah Pergerakan Nasional, dari Kolonialisme sampai Nasionalisme: Jilid 2, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Scott, Joan Wallach (1999), Gender and the Politics of History, New York: Columbia University Press.

Soeara ‘Aisjijah, No. 1 March 1953 – Djum. Achir 1372, Year XVIII.

Soeara ‘Aisjijah, No. 8, Aug. 1941 – Sja’ban 1360, Year. XVI, p. 439.

Soetomo (1928), Perkawinan dan Perkawinan anak2, Jakarta: Balai Poestaka.

Stuers, Cora Vreede-de (2008), Sejarah Perempuan Indonesia, Gerakan dan Pencapaian, Jakarta: Komunitas Bambu.

Suratmin et al. (1991), Biografi Tokoh Konggres Perempuan Indonesia Pertama, Jakarta: Departmen Pendidikan dan Kebudayaan, pp. 111-112.

Volstelling 1920.


Article Metrics

Abstract view : 157 times
PDF (Bahasa Indonesia) - 79 times

Refbacks

  • There are currently no refbacks.

Comments on this article

View all comments


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

INDEXING PARTNERS:
ISJD

SPONSORED BY:

Web
Analytics View My Stats