PEWARISAN TRADISI MEMBATIK DI DESA KOTAH, SAMPANG, MADURA

Ernawati Purwaningsih(1*),


(1) 
(*) Corresponding Author

Abstract


Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tradisi membatik di Desa Kotah, latar belakangeksistensi tradisi membatik, menelusuri unsur-unsur pewarisan, serta menelusuri cara pewarisannya. Penelitian menggunakan metode kualitatif, teknik wawancara mendalam, pengamatan, dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa awal mula tradisi membatik di Desa Kotah tidak dapat diketahui pasti, namun sudah ada sejak nenek moyang. Hal ini tergambar dari warisan kain batik yang dimiliki beberapa warga di Desa Kotah sudah berumur lebih dari 100 tahun. Mayoritas perempuan di Dusun Magug dapat membatik. Tradisi membatik dapat tetap eksis dipengaruhi, pertama, ketrampilan membatik merupakan warisan dari nenek moyang sehingga ada ikatan untuk meneruskannya. Kedua, kualitas sumberdaya manusia relatif rendah, mengakibatkan kesempatan untuk mencari kerja dan bersaing di luar daerah menjadi rendah. Ketiga, lingkungan permukiman yang relatif terpencil, di daerah perbukitan, tanahnya kurang subur mempengaruhi keterbatasan terhadap kesempatan kerja. Banyak ibu rumah tangga di Dusun Magug menjadi pembatik, namun yang menarik, pembatik anak-anak juga banyak. Anak-anak belajar membatik atas kemauannya sendiri. Dalam proses membatik, anak-anak hanya pada tahapan paling dasar yaitu isen-isen. Jadi, pewarisan tradisi membatik terjadi karena ada rasa memliki warisan budaya, menambah penghasilan, dan lingkungan sekitar banyak yang membatik.

This research is aimed to describe batik tradition on Kotah village, reveal the background of batik tradition existence, finds the factor of the legacy, and reveal the way its inherited. The research was done by qualitative methods, depth-interview techniques, observation, and library study. The beginning of Batik tradition in Kotah village was not known for certain. But it has started since the time of their ancestor. This was depicted through the drawings of Batik cloth possessed by several Kotah villagers which already exists for more than 100 years. The majority of women in Magug hamlet able to make batik. The reasons of Batik tradition can survive was influenced by several factors. First, Batik craftsmanship was the legacy from their ancestor, therefore they have a bond or obligation to continue the legacy. Second, the low rate of human resource quality, cause the opportunity to find and compete to be a job seeker outside the area relatively low. Third, Remote settlements, in hill landscape, infertile soil will limit the job opportunity. Batik crafter in Magug hamlet consist of both children and adults. Children study batik by their own will. In Batik process, children were only comes at 'isen-isen' stage, the most basic stage. Briefly, Batik tradition legacy exists because children love and happy with the cultural legacy that they have. Economically, the activity can add extra money, for local area, household wife who can make Batik.


Keywords


legacy; batik tradition; Kotah; Sampang

References


Anas, B., dll. (ed). 1995. Batik. Jakarta:Yayasan Harapan Kita dan BP3 TMII.

Ariani, C. 2013. “Simbol, Makna dan Nilai Filosofis Batik Banyumasan.” Patrawidya Vol. 14 No. 3 September 2013. Yogyakarta: Balai Pelestarian Nilai Budaya Yogyakarta.

Hayati, C. 2012. “Batik Pekalongan: Besar Karena Benturan.” Patrawidya. Vol. 13 No. 1. Maret 2012. Yogyakarta: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Yogyakarta.

Hidayah, S., dkk. 2012. Sanggar Seni Sebagai Wahana Pewarisan Budaya Lokal Studi Kasus Sanggar Seni Jaran Bodhag “Sri Manis” Kota Probolinggo. Yogyakarta: Balai Pelestarian Nilai Budaya Yogyakarta.

Kodiran. 2004. Pewarisan Budaya dan Kepribadian. Humaniora, Vol. 16.No. 1 Pebruari 2004.

Luthfiyah, S.W. 2010. Pemberdayaan Pekerja Wanita (Studi Kasus Pada Perusahaan Batik Madura di Desa Kotah Kecamatan Jrengik Kabupaten Sampang). Skripsi. Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang.

Peraturan Bersama Menteri Dalam Negeri dan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor 40 dan 42 Tahun 2009 Tentang Pedoman Pelestarian Kebudayaan.

Prabowo, S., dkk. 2012. Sanggar Seni Tradisi Sebagai Wahana Pewarisan Budaya Lokal Padepokan Tjipta Boedaja Tutup Ngisor Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang. Yogyakarta: Balai Pelestarian Nilai Budaya Yogyakarta Bekerjasama dengan Fakultas

Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada.

Purwaningsih, E. 2013. “Batik Banyuwangi: Motif dan Perkembangannya.” Patrawidya Vol. 14 No. 4 Desember 2013.Yogyakarta: Balai Pelestarian Nilai BudayaYogyakarta.

Rosyid, M. 2008. Samin Kudus: Bersahaja di Tengah Asketisme Lokal. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Sarmini. 2009. “Pakaian Batik: Kulturisasi Negara dan Politik Identitas.” Jantra Vol. IV. No. 8, Desember 2009. Yogyakarta: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Yogyakarta.

Shils, E. 1981.Tradition. United States ofAmerica: The University of Chicago Press.

Sumintarsih, 2009. “Pelestarian Batik dan Ekonomi Kreatif.” Jantra Vol. IV. No. 8, Desember 2009. Yogyakarta: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Yogyakarta.

Tis'aini, N., 2010. Analisis faktor-Faktor yang mempengaruhi Perkembangan Industri Batik Madura di Pamekasan (Studi Kasus pada Industri Batik di Dusun Banyumas, Desa Klampar, Kecamatan Proppo, Kabupaten Pamekasan). Skripsi. Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Malang.

Yahya, A., Tt. Sejarah Perkembangan Seni Lukis Batik Indonesia. Yogyakarta: Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara (Javanologi).


Article Metrics

Abstract view : 187 times
PDF (Bahasa Indonesia) - 62 times

Refbacks

  • There are currently no refbacks.

Comments on this article

View all comments


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

INDEXING PARTNERS:
ISJD

SPONSORED BY:

Web
Analytics View My Stats