EKSISTENSI PANRITA LOPI: STUDI TENTANG SULITNYA REGENERASI PENGRAJIN KAPAL PINISI DI KECAMATAN BONTO BAHARI

Abstract

Kapal pinisi merupakan salah satu warisan budaya nenek moyang bangsa Indonesia. Melalui tangan para panrita lopi (Ahli Pembuatan Kapal), kapal pinisi telah menjadi simbol kebanggaan tidak hanya untuk Indonesia namun dunia pun mengakuinya sebagai karya yang luar biasa. Proses pengrajinan kapal pinisi diwariskan secara turun temurun dari satu generasi kegenerasi berikutnya. Perkembangan era globalisasi yang semakin maju menyebabkan pengetahuan pengrajinan kapal pinisi sulit terwariskan dari satu generasi kegenerasi berikutnya, penyebab utama yang menghambat proses transformasi pengetahuan pengrajinan kapal pinisi karena sebagian besar generasi muda di Kecamatan Bonto Bahari lebih memilih untuk merantau dan menempuh pendidikan dibanding belajar pengrajinan kapal pinisi. Kurangnya generasi muda di Kecamatan Bonto Bahari yang mengetahui proses pengrajinan kapal pinisi menjadi masalah tersendiri bagi eksistensi kapal pinisi dimasa sekarang dan yang akan datang, padahal pengetahuan pengrajinan kapal pinisi telah di tetapkan sebagai salah satu warisan budaya dunia oleh UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization).____________________________________________________________Pinisi ship is one of the cultural heritage of the Indonesian nation. Through the panrita lopi (shipbuilding expert), pinisi ships have become a symbol of pride not only for Indonesia but the world also recognize it as a masterpiece. The process of crafting the pinisi vessels is passed down from generation to generation to the next generation. The era of increasingly advanced globalization towards the knowledge of sensing that is difficult to be inherited from one subsequent generation, the main cause affecting the process of transformation of greater and better knowledge in Bonto Bahari Subdistrict is more to choose and learn from learning the craft of pinisi vessels. The lack of young people in Bonto Bahari Sub-district who know the process of pinisi crafters is a problem for cruise ships today and in the future, whereas the knowledge of pinisi crafters has been declared as one of the world cultural heritage by UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization).
https://doi.org/10.52829/pw.96
PDF (Bahasa Indonesia)

References

Amir, Rudi. (2016). Transformasi Budaya Dalam Perspektif Pendidikan Non Formal, Jurnal Penelitian Humano Volume 7 (1): 46-63 ejournal. unkhair.ac.id/index.php/ humano

Ardiwidjaja, Roby. (2016). Pelestarian warisan budaya bahari: daya tarik kapal tradisional sebagai kapal wisata, Kalpataru, Volume 25 (1): 65-74

Arief, A.A dan Nurdin. (2008). Trasnformasi Proses Pembuatan, Pola Hubungan Kerja dan Distribusi Pendapatan pada Industri Perahu Pinisi di Sulawesi Selatan. http://www.scribd.com/doc/13137285/Perahu-Pinisi-Di-Su¬lawesi-Selatan-Dan-Dinamikanya. (Diakses tanggal 5 Mei 2018).

Asis, Abdul. (2012). Annyorong Lopi: Tradisi Ritual Masyarakat Bontobahari Di Kabupaten Bulukumba, Jurnal Walasuji volume 3 (1): 91-104 www.jurnalwalasuji. net/index. php/walasuji/article/view/113/116

Faisal. (2012). Perahu Pinisi Dan Budaya Maritim Orang Bira Di Sulawesi Selatan, Jurnal Jantra volume 7 (1): 80-88

Hanafi, B. (2009). Konstruksi Keberagamaan Masyarakat Nelayan (Studi Terhadap Ritual “Rokat Tase” di Desa Branta, Tlanakan, Pamekasan, Madura. Yogyakarta: Jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam, Fakultas Adat, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga

Koentjaraningrat. (2009). Pengantar Ilmu Antopologi. Jakarta: Rineka Cipta

Kurniasari, N. Yuliaty, C dan Nurlaili (2013). Dimensi Religi dalam Pengrajinan Pinisi. Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan, Volume 8 (1): 75-83

Magnis, Frans dan Suseno. (1999). Pemikiran Karl Marx. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Moleong, J. L. (2012). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Karya

Saenong, A. (2010). Pinisi Paduan Teknologi dan Budaya Bulukumba. Makassar: Dinas Pariwisata Seni Budaya